Senin, 15 Februari 2016

Ayo Bertanam di Pekarangan Rumah



Mahal. 
Kata itu kadang terucap dari mulut ibu-ibu waktu berbelanja kebutuhan dapur di warung. Tak hanya itu, percakapan yang mengeluhkan mahalnya harga beberapa jenis sayuran cukup sering terdengar di pasar. Harganya kadang melonjak tinggi dan kadangkala anjlok.
Fluktuasi harga pertanian merupakan hal yang biasa terjadi dan pola perubahan harga ini sering terulang dalam satu tahun. Misal harga barang akan naik pada saat menjelang dan sesudah hari raya dan liburan dan akan kembali menurun pada hari-hari biasa atau saat panen raya.
Kenaikan harga terjadi karena beberapa sebab, produksi (supply) yang menurun atau adanya peningkatan kebutuhan (demand). Inti dari penyebabnya adalah kebutuhan masyarakat tidak tercukupi oleh ketersediaan barang. Dari sisi ekonomi, ini berarti sisi supply lebih kecil dari demand sehingga akan menggeser titik equilibrium harga ke titik yang lebih tinggi. Dengan kata lain harga menjadi lebih mahal.
Untuk memenuhi kebutuhan beberapa sayuran, kita bisa memanfaatkan pekarangan atau lahan yang ada. Tujuan penanaman adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Walaupun tidak semua jenis sayuran atau bumbu yang bisa ditanam tapi setidaknya hal ini bisa menghemat uang belanja. Misal kalau kita menanam tanaman cabai maka kita tidak usah membeli cabai. Selain cabai kita bisa menanam seledri, daun bawang, sawi dan lain-lain.

Sesuai Selera
Pekarangan merupakan suatu lahan yang berada di sekitar rumah. Di pedesaan umumnya setiap rumah tangga memiliki pekarangan, ada yang luas dan ada yang sempit. Di perkotaan, tidak semua rumah tangga memiliki pekarangan karena lahan pertanian sempit atau bahkan tidak ada.
Apabila pekarangan luas maka lebih leluasa menanam sayuran di samping menanami pekarangan dengan tanaman lain. Namun bila lahan yang kita miliki sempit maka kita bisa menyiasati dengan menanam di media yang kita punya. Wadah ini tidak harus mahal karena kita bisa memanfaatkan wadah bekas misal kaleng cat, botol plastik, paralon bekas, ember bekas dan lain-lain. Metode lain untuk lahan yang sempit adalah dengan menanam bertingkat ke atas (vertikultur).
Cara menanam bisa kita atur sesuai selera, bisa organik maupun non-organik. Teknologi budidaya yang digunakan bermacam-macam. Pemilihan teknologi budidaya disesuaikan dengan selera, kemampuan dan keuangan yang tersedia. Teknologi yang dapat dipilih antara lain tradisional atau modern.
Budidaya pekarangan tidak hanya dilakukan secara monokultur (satu jenis komoditas) namun bisa pula secara polikultur (beragam jenis komoditas). Pilihan tersebut disesuaikan dengan kemampuan dan keterampilan suatu keluarga.
          Jenis tanaman yang dapat ditanam di pekarangan antara lain sayuran, bumbu tanaman pagar, buah-buahan dan bunga.
Tanaman Sayuran
Komoditas hortikultur yang umum ditanam di pekarangan adalah berbagai macam sayuran yang biasanya sering dikonsumsi oleh keluarga. Beragam jenis sayuran dapat ditanam antara lain, bayam, sawi, terong, kangkung,selada, cabai dan lain-lain.

Tanaman Pagar
Tanaman pagar disebut juga pagar hidup, artinya pagar yang sengaja dibuat dari tanaman. Beberapa tanaman yang sering dijadikan sebagai pagar adalah tanaman mangkokan, puring, petai cina, singkong, puring dan lain-lain.

Tanaman buah
Tanaman ini dimaksudkan sebagai penghasil buah yang akan dikonsumsi untuk keluarga maupun untuk tujuan komersial. Selain itu rindangnya tanaman bisa menjadi tanaman peneduh dan pelindung rumah. Buah-buahan yang umum ditanam adalah nangka, sirsat, jambu, jeruk, rambutan, pisang, mangga dan lain-lain.

Tanaman obat dan bumbu dapur
Saat ini gaya hidup back to nature atau kembali ke alam menjadi banyak pilihan masyarakat. Untuk itu pekarangan bisa dimanfaatkan untuk ditanami tanaman obat. Tanaman obat sering dimanfaatkan sebagai obat tradisional dan sebagai bumbu dapur. Beragam tanaman obat adalah kunyit, sereh wangi, kencur, mahkota dewa, sirih, lempuyang, tapak dara, kumis kucing dan lain-lain.

Bunga
Bunga ditanam untuk mempercantik pekarangan rumah. Beragam jenis bunga tersedia di pasaran.
Budidaya tanaman di pekarangan cukup dilakukan dalam skala kecil karena hasil panen dari tanaman yang kita budidayakan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Memakan hasil budidaya sendiri tentunya akan mendatangkan kepuasan lebih. Selain itu produksi sendiri akan mengurangi pengeluaran rumah tangga sehingga uang yang sebelumnya ditujukan untuk kebutuhan sayur atau buah dapat dialihkan untuk memenuhi kebutuhan lain atau ditabung.
Konsumsi untuk keluarga merupakan tujuan utama bertanam di pekarangan namun apabila hasil panen banyak maka kelebihan hasil bisa dijual. Ini artinya dari pekarangan tersebut bisa diperoleh tambahan pendapatan keluarga. Bahkan bila budidaya di pekarangan ini berhasil maka bisa dikembangkan lebih lanjut untuk tujuan komersial. Dilihat dari beragam manfaat tersebut tidak ada salahnya mencoba mempraktekkan bertanam. Ayo, bertanam di pekarangan rumah kita..

Tulisan ini pernah dimuat di Buletin Warta Inovasi terbit 2013
 

2 komentar:

  1. Ayo bertanam di halaman kita...minimal menanam rumput lah...hehehe

    BalasHapus
  2. betul mas, minimal rumput gajah.. rumput kelinci.. rumput bergoyang dll

    BalasHapus