Mahal.
Kata itu kadang terucap dari mulut ibu-ibu waktu berbelanja kebutuhan dapur di
warung. Tak hanya itu, percakapan yang mengeluhkan mahalnya harga beberapa
jenis sayuran cukup sering terdengar di pasar. Harganya kadang melonjak tinggi
dan kadangkala anjlok.
Fluktuasi
harga pertanian merupakan hal yang biasa terjadi dan pola perubahan harga ini
sering terulang dalam satu tahun. Misal harga barang akan naik pada saat
menjelang dan sesudah hari raya dan liburan dan akan kembali menurun pada
hari-hari biasa atau saat panen raya.
Kenaikan
harga terjadi karena beberapa sebab, produksi (supply) yang menurun atau adanya peningkatan kebutuhan (demand). Inti dari penyebabnya adalah
kebutuhan masyarakat tidak tercukupi oleh ketersediaan barang. Dari sisi
ekonomi, ini berarti sisi supply lebih
kecil dari demand sehingga akan
menggeser titik equilibrium harga ke
titik yang lebih tinggi. Dengan kata lain harga menjadi lebih mahal.
Untuk
memenuhi kebutuhan beberapa sayuran, kita bisa memanfaatkan pekarangan atau
lahan yang ada. Tujuan penanaman adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Walaupun
tidak semua jenis sayuran atau bumbu yang bisa ditanam tapi setidaknya hal ini
bisa menghemat uang belanja. Misal kalau kita menanam tanaman cabai maka kita
tidak usah membeli cabai. Selain cabai kita bisa menanam seledri, daun bawang,
sawi dan lain-lain.
Sesuai Selera
Pekarangan
merupakan suatu lahan yang berada di sekitar rumah. Di pedesaan umumnya setiap
rumah tangga memiliki pekarangan, ada yang luas dan ada yang sempit. Di
perkotaan, tidak semua rumah tangga memiliki pekarangan karena lahan pertanian
sempit atau bahkan tidak ada.
Apabila
pekarangan luas maka lebih leluasa menanam sayuran di samping menanami
pekarangan dengan tanaman lain. Namun bila lahan yang kita miliki sempit maka
kita bisa menyiasati dengan menanam di media yang kita punya. Wadah ini tidak
harus mahal karena kita bisa memanfaatkan wadah bekas misal kaleng cat, botol
plastik, paralon bekas, ember bekas dan lain-lain. Metode lain untuk lahan yang
sempit adalah dengan menanam bertingkat ke atas (vertikultur).
Cara
menanam bisa kita atur sesuai selera, bisa organik maupun non-organik. Teknologi
budidaya yang digunakan bermacam-macam. Pemilihan teknologi budidaya
disesuaikan dengan selera, kemampuan dan keuangan yang tersedia. Teknologi yang
dapat dipilih antara lain tradisional atau modern.
Budidaya pekarangan tidak hanya dilakukan secara monokultur (satu jenis
komoditas) namun bisa pula secara polikultur (beragam jenis komoditas). Pilihan
tersebut disesuaikan dengan kemampuan dan keterampilan suatu keluarga.
Jenis tanaman yang dapat ditanam di
pekarangan antara lain sayuran, bumbu tanaman pagar, buah-buahan dan bunga.
Tanaman Sayuran
Komoditas hortikultur yang umum ditanam di pekarangan adalah berbagai macam
sayuran yang biasanya sering dikonsumsi oleh keluarga. Beragam jenis sayuran
dapat ditanam antara lain, bayam, sawi, terong, kangkung,selada,
cabai dan lain-lain.
Tanaman Pagar
Tanaman pagar
disebut juga pagar hidup, artinya pagar yang sengaja dibuat dari tanaman. Beberapa tanaman
yang sering dijadikan sebagai pagar adalah tanaman mangkokan, puring, petai
cina, singkong, puring dan lain-lain.
Tanaman buah
Tanaman ini
dimaksudkan sebagai penghasil buah yang akan dikonsumsi untuk keluarga maupun
untuk tujuan komersial. Selain itu rindangnya tanaman bisa menjadi tanaman
peneduh dan pelindung rumah. Buah-buahan yang umum ditanam adalah nangka, sirsat, jambu, jeruk,
rambutan, pisang, mangga dan lain-lain.
Tanaman obat dan bumbu dapur
Saat ini gaya
hidup back to nature atau kembali ke alam menjadi banyak
pilihan masyarakat. Untuk itu pekarangan bisa dimanfaatkan untuk ditanami tanaman obat.
Tanaman
obat sering dimanfaatkan sebagai obat tradisional dan sebagai bumbu dapur.
Beragam tanaman obat adalah kunyit, sereh wangi, kencur,
mahkota dewa, sirih, lempuyang, tapak dara, kumis kucing dan lain-lain.
Bunga
Bunga ditanam
untuk mempercantik pekarangan rumah. Beragam jenis bunga tersedia di pasaran.
Budidaya
tanaman di pekarangan cukup dilakukan dalam skala kecil karena hasil panen dari
tanaman yang kita budidayakan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Memakan hasil budidaya sendiri tentunya akan mendatangkan kepuasan lebih.
Selain itu produksi sendiri akan mengurangi pengeluaran rumah tangga
sehingga uang yang sebelumnya ditujukan untuk kebutuhan sayur atau
buah dapat dialihkan untuk memenuhi kebutuhan lain atau ditabung.
Konsumsi
untuk keluarga merupakan tujuan utama bertanam di pekarangan namun apabila
hasil panen banyak maka kelebihan hasil bisa dijual. Ini artinya dari
pekarangan tersebut bisa diperoleh tambahan pendapatan keluarga. Bahkan
bila budidaya di pekarangan ini berhasil maka bisa dikembangkan lebih lanjut
untuk tujuan komersial. Dilihat dari beragam manfaat tersebut tidak ada salahnya
mencoba mempraktekkan bertanam. Ayo, bertanam di pekarangan rumah kita..
Tulisan ini pernah dimuat di Buletin Warta Inovasi terbit 2013
Ayo bertanam di halaman kita...minimal menanam rumput lah...hehehe
BalasHapusbetul mas, minimal rumput gajah.. rumput kelinci.. rumput bergoyang dll
BalasHapus