Pernahkah
mendengar kata jajar legowo? Bagi sejumlah orang kata ini sudah tidak asing
lagi namun untuk sejumlah orang lain baru mendengar (tepatnya baru membaca)
kata jajar legowo. Yang jelas, jajar legowo bukan sejenis makanan apalagi nama
orang.. jauh itu. Kalo yang nama makanan
ya sejenis rondo royal,,klepon,, onde-onde. Stop, jadi ngomong makanan. Ayo
kita kembali ke pembicaraan kita tentang jajar legowo.
Kata
jajar legowo sebenarnya sudah cukup lama dipopulerkan. Kata ini lebih dikenal
pada bidang pertanian khususnya untuk tanaman padi. Apa sih sebenarnya jajar
legowo itu?
Kata jajar legowo berasal dari boso jowo. Secara harafiah jajar berarti
berbaris sedangkan legowo merupakan gabungan dari kata lego (luas) dan dowo (memanjang).
Merujuk pada Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan)
Kementerian Pertanian, jajar legowo ini merupakan istilah untuk cara tanam
padi. Cara tanam jajar legowo merupakan pola bertanam
yang berselang-seling antara dua atau lebih (biasanya dua atau empat) baris tanaman
padi dan satu baris kosong.
Intinya, Cara tanam legowo merupakan
cara tanam padi sawah dengan pola beberapa barisan tanaman yang diselingi satu
barisan kosong. Karena pada jajar legowo ada baris kosong maka banyak orang
awam yang mempertanyakan apakah baris kosong ini menyebabkan jumlah tanaman
menjadi lebih sedikit dari cara tanam padi yang sudah biasa diterapkan (cara
tanam tegel). Sebaliknya, cara tanam jajar legowo ini malah akan meningkatkan
jumlah tanaman dalam hamparan yang sama dibandingkan dengan cara tanam tegel.
Hemm bingung? Begini, peningkatan jumlah tanaman karena pada baris yang
berdekatan dengan baris kosong akan disisipkan dengan tanaman lagi. Misalnya
jika jarak antar tanaman dalam satu baris 20 cm maka pada baris pinggir ini
menjadi 10 cm. Nah sudah jelaskan..
Sampai
di sini dulu ya, kita sambung lain waktu,, tentang Bagaimana menerapkan Cara
Tanam Jajar Legowo.
Referensi:
Abdulrachman, S., Mejaya, M. J.,
Agsutiani, N., gunawan, I., Sasmita, P. dan Gusmara A. 2013. Sistem Tanam
Legowo. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian, Kementerian Pertanian. Bogor
Foto: Nur Fitriana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar